Sabtu, 17 Desember 2011

Resensi Atas Nama Cinta

Perjuangan Cinta Mustafa dalam Naungan Ridho Allah dan Rasul-Nya


Judul buku      : Atas Nama Cinta
Pengarang       : Wahyu Sujani
Penerbit          : DIVA Press
Terbit              : Oktober 2008 (cetakan pertama)
Tebal               : 434 halaman
      


      Adakah nikmat kehidupan yang lebih  mulia dan indah daripada cinta yang telah direstui Allah dan Rasul-Nya? Seisi alam semesta turut bahagia menyaksikan kebahagiaan itu. Ini baru setitik nikmat yang berasal dari satu Asma Allah yang diturunkan untuk dunia. Kalimat - kalimat ini adalah salah satu ungkapan yang bermakna di dalam novel ini.
Berlatar belakang kehidupan seorang Mustafa Ar-Rahman yang tinggal di keluarga yang tidak harmonis karena ayah dan ibunya selalu bertengkar. Walaupun berakhir dengan hal yang romantis. Hal ini terjadi karena ayah Mustafa adalah seorang pengangguran sejak di PHK dari pekerjaannya sebagai pilot. Sedangkan ibunya harus menafkahi kelurga yakni bekerja di malam hari. Mereka selalu bertengkar karena sang ayah pengangguran yang hanya bisa mabuk dan berjudi saja sedangkan sang ibu selalu pulang malam diantar oleh laki-laki yang berganti -  ganti. Walaupun sebenarnya ia tidak hanya bekerja di  tempat biliar melainkan juga sebagai pelacur yang suaminya tahu akan hal itu sedangkan anaknya belum tahu karna belum mendapat bukti sehingga jika ayahnya sedang memukul ibunya Mustafa selalu membela.
Mustafa merupakan anak semata wayang dari Komar dan Maemunah. Ia lulusan fakultas sastra salah satu universitas negeri di Bandung. Kerja Mustafa adalah membuat karajinan tangan berupa miniatur alat transportasi dan lain-lain di Bengkel  Seni yang terdapat di belakang rumahnya. Ia juga menulis artikel-artikel tentang islam. Mustafa mempunyai seorang kekasih bernama putri yang ternominasi sebagai Calon Putri Indonesia. Mustafa tidak setuju dengan keinginan putri karena putri pasti akan memperlihatkan auratnya. Tapi Mustafa tidak bisa menahan putri karena itu adalah keinginanya dan orang tuanya pun menyetujui. Tanpa disangka ternyata Putri menghianati cinta tulus dan suci Mustafa dengan melakukan hal yang dilaknat Allah dengan Arul didepan mata Mustafa meski Putri tidak menyadarinya. Mustafa pun melepaskan Putri dari hidupnya.
Sueb sahabat dekat Mustafa mengajak Mustafa pergi ke pesta ulang tahun Wanda teman mereka saat kuliah. Mustafa menerima ajakan itu karena bujukan Sueb sebagai tanda menghormati Wanda. Sebenarnya Mustofa tidak suka karena pesta tersebut diadakan di diskotek. Tidak berapa lama Mustafa disana dan pamit pulang. Di jalan ia bertemu seorang gadis bernama Laila yang duduk tak jauh darinya yang sedang  menelepon dan memutuskan kekasihnya. Tak di sangka Mustafa bertemu lagi dengan Laila di tempat yang berbeda yang membuat mereka menjadi dekat dan saling mencintai. Saat bersama dengan Laila ia mendapat pekerjaan membuat patung kuda pegasus ukuran asli di rumah ibu Aisyah.
Rahasia di dalam kehidupan Mustafa pun terbuka. Ternyata ia adalah anak ibu Aisyah yang 27 tahun lalu dikira mati bersama suami ibu Aisyah. Ternyata anak itu tidak mati. Ia diselamatkan oleh pilot pesawat yaitu Komar ayah angkat Mustafa yang tidak mempunyai anak. Mustafa dibesarkan dengan penuh kasih sayang sampai akhirnya orang tua angkatnya berubah menjadi tidak harmonis lagi. Namun saat Mustofa  diberitahu oleh ayahnya yang sedang berada di penjara bahwa ia anak dari ibu Aisyah. Mustafa  merasa bahagia sekaligus sedih. Mustofa merasa bahagia karena seorang ibu yang di idamankannya ternyata adalah ibu kandungnya. Tetapi ia juga merasa sedih karena hal ini terungkap disaat ia sedang sekuat tenaga dan segenap jiwa menyadarkan ibunya dari tingkah lakunya yang jelek dan tengah  mengidap penyakit yang dilaknat Allah yaitu HIV/AIDS.
Perjalanan cinta Mustafa selalu tidak sesuai dengan apa diharapkannya. Setelah Mustafa disakiti dengan penghianatan yang dilakukan Putri. Seorang yang terindah yang menggantikan Putri dalam hidupnya yakni Laila dijodohkan  oleh orang tuanya. Namun atas nama cinta dengan keyakinan Mustafa menyerahkan segalanya kepada Allah. Dengan  ketabahan dan ketawakalan Mustafa sehingga ia diberikan jalan yang terbaik dari Asma Allah. Atas paksaan Laila yang selalu mengatakan Mustafa tidak menepati janji karena saat bersama Laila, Mustafa pernah berjanji akan melamarnya sehingga Mustafa mendatangi orang tua Laila. Saat menemui orang tua Laila, Mustafa mengungkapkan cerita kehidupan Rasulullah yang membuat orang tua Laila tersentuh hatinya dan merestui hubungan Mustafa dan Laila. Mustafa dan Laila pun  menikah dan hidup dengan bahagia bersama anaknya yang bernama Muhammad ar-Rayyan, nama yang diberikan orang tua kandung Mustafa kepadanya sewaktu ia kecil.
Novel ini merupakan novel religius yang  mengajarkan banyak hal tentang kehidupan nyata yang mungkin sulit untuk dijalani dengan ikhlas. Di dalam novel ini terdapat banyak puisi indah yang mengungkapkan perasaan dan suasana hati penulis. Banyak keunikan di dalamnya yakni diselipkannya kata-kata khas Bandung yang merupakan tempat tinggal penulis namun tetap diberikan artian yang di letakkan di bawah halaman. Novel ini juga penuh motivasi dan hikmah tentang perjuangan hidup yang penuh gejolak jiiwa, pikiran, emosi, dan sederet naluri manusiawi dalam meraih kesucian dan kemuliaan diri. Sebuah potret kehidupan yang sepenuhnya takzim bersimpuh di haribaan Sang Maha Kasih, Allah ‘Azza wa Jalla. Kertas yang digunakan novel ini bagus karena tidak buram dan tulisannya indah namun tetap terbaca sehingga pembaca tidak bosan membacanya. Cover novel ini lumayan menarik walaupun ada tulisan yang tidak jelas terbaca dikarenakan warna cover yang tidak sesuai dengan warna tulisan. Selain itu novel ini lebih banyak menceritakan tentang kehidupan keluarga tokoh utama yakni Mustafa dari pada kehidupan cintanya yang merupakan pokok pemikiran novel ini.
Novel ini cocok dibaca oleh orang dewasa yang belum menikah yang sedang mencari cinta agar mereka senantiasa mengikuti perjalanan cinta Mustafa dan Laila dengan menjaga kesucian dan kemuliaan hidup mereka dalam naungan ridho Allah dan Rasul-Nya.
*Penulis resensi : Yuhelensi